Showing posts with label content 70%. Show all posts
Showing posts with label content 70%. Show all posts

December 11, 2009

Apapun Bentuknya Tetap Saja Hanya Pembicaraan

Anak pak saya minta izin untuk ikut demo ..
Bapak kurang kerjaan .. mending kamu bantuin ibumu jualan ..
Anak huff jengkel .. bapak gimana tho .. ini panggilan jiwa untuk perubahan negara ini ..
Bapak kamu dibilangin jangan ngeyel .. kamu tidak tahu tentang apa itu negara ..
Anak bapak gak ingin anaknya jadi pembela kebenaran ..
Bapak sejak kapan kamu ingin jadi pahlawan kalau wajahmu hanya akan berakhir diatas mata uang ..
Anak menurut apa yang aku pelajari .. tatanan negara ini sudah tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh founding father kita ..
Bapak aku jual sawah untuk sekolah kamu biar bisa membeli sawah yang lebih luas .. bukan untuk ngajarin bapak ..
Anak saya bukan ngajarin bapak .. tapi dengan berpendidikan dan berorganisasi saya jadi lebih tahu dari bapak ..
Bapak kata siapa .. kamu tahu gak kenapa bapak bangun pagi langsung nyalain tv ..
Anak ???
Bapak negara dan kehidupan berbangsa cuman sebesar 21" ..
Anak masih tulalit
Bapak dari urusan pengadilan sampai rumah tangga sudah tersedia diruangan kita .. jadi ngapain repot2 kamu ikut demo .. bikin kotor tvku saja ..



Img. sourcenya unknown ! hahaha cuman saya tambahi kata-kata pada papan tulis "Saya Berjanji Tidak Akan Korupsi Lagi" dan sedikit retouching untuk cahaya dan warnanya. Dan bisa anda bayangkan apabila benar benar terjadi pelaksanaan hukuman yang pantas bagi koruptor adalah menulis kata-kata tersebut keliling Indonesia dan tentunya di setiap sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, saya jamin akan memberikan lapangan pekerjaan bagi pemijat profesional di negeri ini dan tentunya kesejahteraan mereka para pemijat akan meningkat.

Sekedar memanjakan diri dalam peringatan "Hari Anti Korupsi" 9 Desember 2009 \m/

February 20, 2009

ARDATH

"Aku Rela Diperkosa Asal Tidak Hamil", kurang lebih seperti itu kalau pengertian dalam ejaan "gojek kere".

Dalam bukunya yang berjudul "Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki", Emha mencoba memaparkan tentang proses demokrasi yang terjadi di Indonesia. Dijelaskan bahwa penyebutan masyarakat diganti dengan kata "janda". Kenapa janda? apabila masyarakat adalah seorang istri, tentu pemimpin adalah suaminya.

5 tahun sekali masyarakat diperkosa dengan sebutan pesta demokrasi. Kenapa diperkosa? selain keanekaragaman suku dan budaya, manusia Indonesia memiliki keanekaragaman cara dalam mempromosikan diri dengan tujuan sama yaitu memiliki "badge" sebagai "wakil rakyat".

Apakah mungkin seorang pemimpin membungkukkan badan di hadapan seorang pemulung? seharusnya mungkin, pemulung memiliki hak contreng yang saat ini masih juga diperdebatkan keabsahannya dalam memilih pemimpinnya. Trus kenapa terdapat tulisan "pemulung dilarang masuk?" Sisi negative dari sikap pemulung inilah yang memunculkan ide tulisan tersebut, sehingga timbul wacana bahwa setiap pemulung adalah pencuri. Sebagai konstituen seharusnya kita bisa juga menorehkan sedikit tulisan didepan meja kerja para wakil rakyat, begini bunyinya "pencuri ulung dilarang masuk".

Entah pemimpin muda atau tua, kita sudah memiliki penerus bangsa dengan pendidikan yang bisa dibilang cukup tinggi. Bagaimana memilih pemimpin seharusnya seperti orang jawa bilang "memiliki bobot, bebet dan bibit yang baik". Kontinyuitas penjualan diri calon pemimpin yang tidak sedikit memakan biaya, saya harap tidak sekedar perang foto dan nama dengan slogan-slogannya.

Beban masyarakat sudah terlalu banyak, jadi apapun yang ditawarkan dalam proses sosialisasi hendaknya para calon pemimpin lapang dada, karena masyarakat memang kelaparan dan mau kenyang juga. Seandainya beban tersebut seperti kelebihan bebannya pada listrik yang akhirnya menimbulkan konsleting karena tidak sanggup menahan beban, bisa jadi akan lahir banyak "manusia konslet" yang memiliki ingatan pendek sehingga setiap saat harus diingatkan dengan perkenalan yang baru pula. Berulang dan terus terulang.

February 12, 2009

sejamannya jaman

Apakah tanda-tanda jaman edan, gila, susah, remuk atau sebutan lain yang tepat?
1. Apakah kebutuhan pokok melambung?
2. Apakah bbm turun naik?
3. Apakah pendidikan mahal?
4. Apakah biaya kesehatan mahal?
5. Apakah korupsi merajalela?

Mo "misuh-misuh", tak temenin; ASU, Bajingan, Dancuk, Shit, Fuck, Munyuk, Damput, dsb. Puaskan bibir kita, tapi struktur indra yang laen?

Kunci Jawaban (menurut saya..ya terserah saya)
1. Maaf tiap hari masih banyak orang bisa makan nasi, jagung, ketela, bakpia, nasi padang, gudeg, lumpia, pem-pek, junkfood, burger, kacang biar ga kesambet, dsb. Kalau saya mungkin memaksakan diri untuk masih bisa bersyukur, "Untung bisa utang" "Ya namanya juga prihatin" "Masih ada sisa kemarin".
2. Jogjakarta semakin padat. Jadi ga masalah.
3. Pendidikan murah, bayar instansinya yang mahal.
4. Dukun dadakan datang dan pergi.
5. Untung sekarang ada KPK (Karepe Piye? Kurang?). Moral dan etika no urut atau suara terbanyak terserah, karena belum diputusin MK (Menyiasati Korupsi).

100 Tahun yang lalu, 50 tahun yang lalu, 25 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, 5 tahun yang lalu bisa dikatakan jaman edan. Kakek Buyut, Kakek, Bapak, kira-kira sudah berapa kali menyebutnya. Dan takkan pernah sama lafalnya.

November 25, 2008

tes santun sopan



Daripada banyak orang memuliakan "ASU" setiap hari, lebih baek kalau banyak orang sinis melihat matanya masih sehat.