July 19, 2009

kecil



Lumayan dapat menduduki peringkat II di kompetisinya Fak. Geografi UGM dan Walhi Jogja dalam rangka Hari Bumi.

March 4, 2009

terlambat untuk lelah

"Apa yang kau inginkan dalam hidup"
"Menjadi bebas!"
"Sederhana"
"Tidak"

Percakapan tersebut saya ambil dalam film "Once Upon Time In Mexico". Jadi sewaktu diputar di salah satu stasiun televisi, bergegas kucomot dari layar televisi saya. Wakakaka 10000000000000000000000000x. Mungkinkah? Mas e Ndobossssss.

Dan ternyata menjadi "bebas" memiliki hukum sendiri. Ujian tersebut datang melalui keluarga, teman, tetangga, mitra kerja, bakul angkringan, warung makan, pemabuk, ketua RT, dsb. "Bebas" adalah petualangan untuk memperoleh harta karun berupa "tantangan". Dan ternyata "bebas" tidak berarti plong, keterikatan dengan tanggung jawab beda tipis sejengkal helai rambut seperti bukunya Moegono, SH disalah satu bukunya tentang penegak hukum dan penjahat.

February 28, 2009

past doesn't pas

February 26, 2009

bu Daya

Di perempatan kami liat bule perempuan, naek sepeda, cengengas-cengenges dengan PD nya menerobos lampu merah. Ga tahu ne bule dari mana, ga sempat nanya. Kami berdua tertawa sejadinya. Di otak kami memiliki pikiran yang sama. Asli...Konyol... Keanekaragaman budaya Nusantara memang menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara. Sampai budaya melanggar peraturanpun bisa dikenalkan, dicerna, dan diterapkan.

February 20, 2009

ARDATH

"Aku Rela Diperkosa Asal Tidak Hamil", kurang lebih seperti itu kalau pengertian dalam ejaan "gojek kere".

Dalam bukunya yang berjudul "Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki", Emha mencoba memaparkan tentang proses demokrasi yang terjadi di Indonesia. Dijelaskan bahwa penyebutan masyarakat diganti dengan kata "janda". Kenapa janda? apabila masyarakat adalah seorang istri, tentu pemimpin adalah suaminya.

5 tahun sekali masyarakat diperkosa dengan sebutan pesta demokrasi. Kenapa diperkosa? selain keanekaragaman suku dan budaya, manusia Indonesia memiliki keanekaragaman cara dalam mempromosikan diri dengan tujuan sama yaitu memiliki "badge" sebagai "wakil rakyat".

Apakah mungkin seorang pemimpin membungkukkan badan di hadapan seorang pemulung? seharusnya mungkin, pemulung memiliki hak contreng yang saat ini masih juga diperdebatkan keabsahannya dalam memilih pemimpinnya. Trus kenapa terdapat tulisan "pemulung dilarang masuk?" Sisi negative dari sikap pemulung inilah yang memunculkan ide tulisan tersebut, sehingga timbul wacana bahwa setiap pemulung adalah pencuri. Sebagai konstituen seharusnya kita bisa juga menorehkan sedikit tulisan didepan meja kerja para wakil rakyat, begini bunyinya "pencuri ulung dilarang masuk".

Entah pemimpin muda atau tua, kita sudah memiliki penerus bangsa dengan pendidikan yang bisa dibilang cukup tinggi. Bagaimana memilih pemimpin seharusnya seperti orang jawa bilang "memiliki bobot, bebet dan bibit yang baik". Kontinyuitas penjualan diri calon pemimpin yang tidak sedikit memakan biaya, saya harap tidak sekedar perang foto dan nama dengan slogan-slogannya.

Beban masyarakat sudah terlalu banyak, jadi apapun yang ditawarkan dalam proses sosialisasi hendaknya para calon pemimpin lapang dada, karena masyarakat memang kelaparan dan mau kenyang juga. Seandainya beban tersebut seperti kelebihan bebannya pada listrik yang akhirnya menimbulkan konsleting karena tidak sanggup menahan beban, bisa jadi akan lahir banyak "manusia konslet" yang memiliki ingatan pendek sehingga setiap saat harus diingatkan dengan perkenalan yang baru pula. Berulang dan terus terulang.